Skip to main content

Sebaiknya Kita yang Mengikuti Kecanggihan Teknologi atau Sebaliknya?

 Zaman now adalah zaman teknologi semakin canggih. Gak canggih berarti bodoh dan gak gaul. Itulah yang juga sempat terdoktrin dalam pikiran saya.

Hingga saya mengenal hidup minimalis. Saya mulai mempelajari bagaimana men-declutter diri dari penggunaan sosial media. Terlalu banyak menggunakan sosial media membuat kita mudah terdistraksi, dan parahnya menjadi pribadi yang toxic atau bisa jadi keras pada diri sendiri.

"Teman saya bisa mencapai karier jadi manajer, kenapa saya engga?", atau, "enak yah umur 30 sudah bisa punya mobil dan rumah, lah aku sudah 32 tahun, belum punya apa-apa."

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain pun timbul, pada akhirnya diri kita mendorong diri supaya bisa sama seperti mereka-mereka yang memamerkan kehidupannya disosial media. Harus punya pakaian yang modelnya lagi nge-tren, gadget keluaran terbaru, dan seterusnya, yang terpenting diri kita tidak boleh kalah gaul dengan yang lagi ngetrend di sosial media. 

Hal tersebut melahirkan toxic bagi kesehatan mental kita. Akhirnya saya mulai membatasi diri dalam bersosial media, sesuai dengan apa yang dianjurkan dan dilakukan oleh para pegiat minimalis. 

Meminimalisir info yang tidak perlu, atau konten yang men-trigger kita untuk membandingkan diri. 

Sembari membatasi diri, sembari saya bertanya pada diri, "sebenarnya bagus gak sih kalau kita yang ngikutin kecanggihan teknologi? Sebenarnya kita yang jadi budak teknologi, atau sebaliknya ya?"

Dalam film dokumenter The Minimalist di Netflix, membuat saya mulai menyadari bahwa banyak waktu saya yang tersita di sosial media, dan yap, keinginan berbelanja semakin tinggi. Ternyata memang iklan mengcounter diri kita untuk terus fokus menghabiskan uang sebanyak mungkin, tanpa berpikir panjang. 

Psikologi kita didoktrin oleh iklan-iklan tersebut bahwa kita membutuhkan barang-barang yang diiklankan dan harus segera membelinya sebelum kehabisan. 

Bagaimana mereka bisa memahami psikologi kita?

Bukan dengan survey, bung, seperti yang dilakukan para peneliti, akan tetapi dari track record kita disosial media. Data-data diri yang kita mesti isi dalam setiap aplikasi dikelola dan dipelajari oleh mereka, sehingga mereka bisa memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan. 

Hohoho... saya jadi bertanya-tanya, apakah kita selama ini dibodohi dengan iming-iming menjadi manusia yang pintar adalah harus mengikuti kecanggihan teknologi? 

Alih-alih pintar, malah kita secara terbuka membiarkan diri dimanipulasi oleh mereka, yang senang berbisnis, untuk mempelajari psikologi kita, agar dengan mudah bagi mereka menciptakan suatu kebutuhan agar kita terus berbelanja produk yang mereka jual. Juga, membiarkan diri kita dipelajari oleh mereka, agar mereka bisa menciptakan produk yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita.

Jadi sebaiknya kita yang mengikuti kecanggihan teknologi, atau teknologi yang mengikuti phase kita?

Comments